Menelisik Fenomena Tawuran Antarpelajar yang Kian Meningkat
- Sabtu, 20 Juli 2024
- Administrator
- 1 komentar
Kenakalan remaja seperti tawuran bukan hal yang bisa diremehkan. Pada kasus-kasus yang sudah pernah terjadi, tawuran pelajar berisiko menyebabkan kematian hingga cacat. Sementara efek jangka panjang lainnya, menimbulkan konflik yang semakin sulit diselesaikan.
Tawuran adalah satu di antara kegiatan interaksi manusia yang saling merugikan, karena satu pihak dengan pihak yang lain berusaha saling menyakiti secara fisik baik dengan atau tanpa alat bantu.
Seperti berita yang ditulis di: https://www.rri.co.id/kriminalitas, yang isinya bahwa: Polisi menangkap dua pelaku tawuran di kawasan Jalan Haji Baping, Susukan, Ciracas, Jakarta Timur. Insiden tersebut menyebabkan satu orang berinisial APR (19) meninggal dunia, ini adalah sangat konyol sekali. Seakan nyawa manusia tidak berharga.
Kejadian tersebut menurut Kapolsek Ciracas, Kompol Agung Ardiansyah, aksi tawuran antar-kelompok pemuda terjadi pada Selasa (16/7/2024) pukul 03.30 WIB. "Sebelumnya mereka telah membuat janji untuk bertemu terlebih dulu via medsos," ujarnya, Kamis (18/7/2024).
Saat tawuran, seorang pelaku berinisial IIJ (26) melempar batu ke arah lawan dan mengenai korban APR hingga terjatuh. "Setelah itu, pelaku berinisial NB (17) membacok korban dengan senjata tajam," kata Agung.
Berkat keterangan para saksi di tempat kejadian perkara (TKP), polisi dapat membekuk IIJ dan NB. Bersama mereka juga disita barang bukti berupa senjata tajam jenis celurit dan sebongkah batu kali.
Atas perbuatannya, kedua pelaku dijerat Pasal 338 KUHP (Pembunuhan), Pasal 170 KUHP (Pengeroyokan), dan Pasal 351 KUHP (Penganiayaan). Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara.
Dari kisah diatas ini harus kita ambil hikmah khususnya bagi para siswa, untuk tidak melakukan kegiatan yang dapat merusak masa depan pribadi kita, hindari perkumpulan yang kurang bermanfaat apalagi malam hari, hindari teman yang akan merusakan masa depan kalian, kasihanlah kepada kedua orang tuamu yang melahirkan dan membesarkanmu, karena mereka sangat berharap atas kesuksesanmu tuk masa yang akan datang. Dengarlah nasihat guru, dan carilah aktifitas yang dapat mengasah bakatmu, baik sifatnya softskill maupun hard skill. Aktif di kegiatan ekstra kurikuler dan cari kegiatan positif lainya.
Telah sama-sama kita ketahui bahwa perilaku tawuran memang bukan hal yang mudah dicegah apalagi oleh diri remaja atau pelajar sendiri. Setidaknya penulis ingin membantu memberikan pengetahun khususnya bagi orang tua atau wali bisa mempelajari penyebab tawuran pelajar agar pengendaliannya lebih optimal, jangan asal menyalahkan mereka.
Agar lebih memahami, berikut Liputan6.com ulas lebih mendalam sepuluh penyebab tawuran pelajar lengkap penjelasannya, Senin (20/7/2024)
6 Penyebab Terjadinya Tawuran Pelajar yang Perlu Diketahui
Kasus tawuran pelajar hampir pernah terjadi di seluruh daerah Indonesia. Kasus-kasus tersebut seringnya terjadi di kota besar. Namun, tidak menutup kemungkinan tawuran terjadi di kota-kota lebih kecil.
Lantas, apa sebenarnya penyebab tawuran antarpelajar bisa terjadi?
- Kontrol Diri Lemah
Memiliki kontrol diri yang lemah atau buruk. Kontrol diri mengarah pada ketidakstabilan emosi. Penyebab tawuran pelajar ini mengarah pada emosi mudah marah, frustrasi, dan kurang peka terhadap lingkungan sosialnya.
Ini pemicu dari tawuran pelajar yang sering sekali terjadi. Ketika menghadapi masalah, mereka dengan kontrol diri yang lemah akan memiliki kecenderungan melarikan diri atau menghindarinya. Begitu pula lebih suka menyalahkan orang lain dan ketika dituntut untuk menghadapi, mereka akan memilih cara yang mudah misalnya saja tawuran.
- Krisis Identitas
Memahami penyebab tawuran pelajar adalah ketika mereka mengalami krisis identitas. Padahal sebenarnya, identitas diri bisa dibentuk dari pengalaman terhadap nilai-nilai yang akan mewarnai kepribadiannya.
Para ahli mengungkap, penyebab tawuran pelajar adalah yang berhubungan dengan krisis identitas mengarah pada ketidakmampuan menemukan nilai positif dalam diri. Hal ini pada akhirnya akan mengakibatkan munculnya penyimpangan-penyimpangan perilaku, contoh nyata yang sering terjadi adalah tawuran.
- Rivalitas Antar Sekolah
Memahami penyebab tawuran pelajar adalah terjadinya rivalitas antar pelajar atau hubungan buruk antar sekolah. Rivalitas umumnya dipicu oleh sentimen negatif diantara keduanya. Inilah penyebab tawuran pelajar sebenarnya, ketika kedua rival dipertemukan, maka tawuran akan sangat berisiko terjadi.
- Pengawasan Kurang
Memahami penyebab tawuran pelajar adalah kurangnya pengawasan dari para orang tua atau wali. Melakukan pengawasan pada remaja ini penting agar perilaku agresif dan aktif secara kriminal tidak tumbuh.
Pengawasan yang kurang bisa menjadi penyebab tawuran pelajar, karena tanpa pengawasan membuat anak atau remaja mudah berteman dengan orang yang salah. Inilah yang menjadikan kurangnya pengawasan sangat berpotensi menjadi penyebab tawuran.
- Ketegasan Sekolah dan Pemerintah
Memahami penyebab tawuran pelajar adalah kurangnya ketegasan dari pihak sekolah dan pemerintah untuk menangani. Sekolah atau lembaga pendidikan sangat memiliki peran kuat dalam mencegah terjadinya tawuran dan alat menekan yang ampuh daripada penyebab tawuran pelajar
- Pengaruh Media Massa
Media massa seperti televisi dan film bisa memberikan persepsi yang keliru bagi remaja/pelajar dalam menyelesaikan konflik. Kekerasan yang tergambar dalam media massa ditangkap oleh remaja/pelajar sebagai cara yang wajar untuk memecahkan masalah.
Alhasil, tawuran pun tak terelakkan. Maka dari itu, masyarakat perlu bijak dalam menyaring informasi dari media massa.
- Pengaruh Internet dan Media Sosial
Internet dan media sosial bisa menjadi penyulut aksi tawuran di kalangan pelajar. Penggunaan internet dan media sosial di kalangan remaja/pelajar saat ini begitu masif.
Sebuah studi dari Bilangan Research Center mengungkapkan bahwa, dari total penduduk di Indonesia yang berjumlah 266,4 juta di awal tahun 2018, terdapat 132,7 juta pengguna internet. Dengan demikian, tingkat penetrasi internet mencapai sekitar 50%.
Jumlah ini akan terus meningkat menjadi 140 juta 150 juta di akhir tahun 2018. Yang menarik, ternyata jumlah pengguna media sosial adalah 130 juta atau hampir sama jumlahnya dengan pengguna internet.
Hasil survei BRC terhadap spiritualitas generasi muda menunjukkan, dari total 4.095 responden, ternyata 97,4% responden menjawab bahwa, mereka terkoneksi internet. Hampir 50% responden menyatakan bahwa, mereka menggunakan media sosial.
Facebook, Instagram, Line, WhatsApp, dan Youtube merupakan media sosial yang paling banyak diakses oleh generasi muda.
Sebelum tawuran, biasanya para pelajar saling ejek di media sosial. Lalu, memutuskan untuk bertemu di beberapa titik. Saat bertemu, mereka membawa benda-benda tajam yang didapat dari toko daring.

Semoga tulisan ini bisa membuat kita khususnya Lembaga Pendidikan, orangtua dan juga masyarakat, agar lebih mawas diri akan ternjadinya tawuran antar pelajar. Dengan selalu mengontrol kehidupan mereka, khususnya pada jam-jam yang rawan, diantaranya jam berapa dia pulang, dengan siapa dia bergaul, karena salah berteman akan menjadi mala petaka bagi seorang anak, dan dimana biasa dikumpul dan juga adanya hubungan komunikasi yang baik dengan pihak sekolah tentang perkembangan peserta didik, baik dengan wali kelas, guru BK, dan juga tidak lupa dekatkan diri mereka dengan Allah SWT.
SMK: Bisa, SMK Luar bisa, Prestasi "YES" , Salam sukses untuk kita semua.
1 Komentar
Artikel Terkait
Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMK Tahun 2026 Segera Dimulai. Pastikan Catat Tanggal dan Tahapannya. Gratis dan Tanpa Pungutan!
Selasa, 09 Juni 2026
Tingkatkan Kompetensi Industri, SMKN 68 Jakarta Ikuti Pelatihan Robot Welding di UDWTC Cikarang
Jum'at, 10 April 2026